Tren Staycation: Liburan Nyaman Tanpa Harus Jauh Dari Rumah

Tren Staycation: Liburan Nyaman Tanpa Harus Jauh Dari Rumah

Tren Staycation semakin populer, terutama di kalangan urban dengan ritme cepat dan tekanan kerja yang tinggi. Staycation menjadi alternatif menarik bagi mereka yang ingin melepas penat tanpa harus menempuh perjalanan jauh atau mengeluarkan biaya besar. Konsep ini memanfaatkan waktu libur dengan beristirahat atau melakukan aktivitas menyenangkan di dalam kota, bahkan bisa dilakukan hanya dari rumah sendiri.

Menurut data dari Agoda (2024), lebih dari 52% wisatawan Indonesia memilih staycation selama musim liburan, dengan alasan efisiensi waktu, biaya yang lebih terjangkau, dan kemudahan akses. Fenomena ini juga semakin marak seiring meningkatnya tren work from anywhere dan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Staycation menjadi alternatif ideal bagi pekerja yang ingin melepas penat tanpa meninggalkan rutinitas kerja yang fleksibel.

Staycation tidak hanya berarti diam di rumah dan menonton serial televisi. Banyak keluarga atau individu yang merancang liburannya dengan menginap di hotel lokal, mengunjungi tempat wisata dalam kota, menikmati kuliner khas daerah, atau sekadar merapikan rumah agar terasa seperti penginapan pribadi. Aktivitas ini memberi sensasi berlibur namun tetap berada di lingkungan yang familiar dan aman.

Tren Staycation menjadi solusi praktis ketika cuaca buruk atau harga tiket pesawat dan penginapan melonjak saat musim liburan. Terlebih sejak pandemi COVID-19, banyak orang mulai mengadopsi pola liburan yang lebih sederhana namun bermakna. Pilihan ini juga membantu mengurangi kerumunan dan risiko penyebaran virus, sehingga lebih aman bagi keluarga.

Tren Staycation: Faktor Pendorong Populernya Di Indonesia

Tren Staycation: Faktor Pendorong Populernya Di Indonesia terdapat sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap staycation. Pertama adalah faktor ekonomi. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sebanyak 67,4% responden menyatakan bahwa mereka lebih memilih bentuk liburan yang hemat biaya, dan staycation dianggap sebagai opsi terbaik dalam konteks tersebut.

Kedua, kemudahan akses transportasi dan fasilitas pendukung di dalam kota membuat liburan tidak lagi harus identik dengan perjalanan panjang. Banyak hotel, apartemen, dan homestay lokal yang mulai menyediakan paket khusus untuk staycation, lengkap dengan fasilitas hiburan, kolam renang, hingga layanan makan di kamar. Hal ini tentu menarik perhatian masyarakat perkotaan yang ingin relaksasi tanpa kerepotan. Selain itu, banyak penyedia jasa kini menawarkan diskon dan promosi menarik untuk menarik lebih banyak pelanggan staycation di musim libur.

Ketiga, pergeseran gaya hidup ke arah slow living atau hidup lebih tenang dan mindful juga berkontribusi pada tren ini. Staycation memungkinkan seseorang untuk menikmati hal-hal sederhana: membaca buku di taman, membuat kopi di pagi hari, yoga di balkon, atau menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Aktivitas-aktivitas tersebut terbukti mampu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati. Bahkan, beberapa komunitas lokal kini mengadakan workshop dan kelas mindfulness yang mendukung konsep hidup santai selama staycation.

Tak kalah penting, staycation juga dianggap sebagai pilihan ramah lingkungan. Karena tidak memerlukan perjalanan udara atau transportasi jarak jauh, jejak karbon yang dihasilkan jauh lebih kecil. Ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan isu keberlanjutan dan perubahan iklim. Oleh sebab itu, semakin banyak orang yang memilih staycation sebagai alternatif liburan yang tidak hanya nyaman tetapi juga bertanggung jawab terhadap bumi.

Strategi Industri Pariwisata Menangkap Peluang Staycation

Strategi Industri Pariwisata Menangkap Peluang Staycation melihat tren ini, para pelaku industri pariwisata lokal mulai mengembangkan strategi khusus untuk menangkap pasar staycation. Hotel-hotel bintang tiga hingga lima, misalnya, berlomba-lomba menawarkan paket menarik, mulai dari diskon akhir pekan, layanan spa, family corner, hingga fasilitas co-working space untuk pekerja remote. Strategi ini menunjukkan adaptasi cepat industri pariwisata terhadap perubahan preferensi konsumen pasca pandemi dan tren kerja jarak jauh yang terus berkembang.

Platform pemesanan digital seperti Tiket.com dan Traveloka menambahkan filter “staycation-friendly” untuk mencari penginapan nyaman dan tenang. Data Traveloka (2024) menunjukkan kenaikan 38% pemesanan hotel lokal pada akhir pekan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan perubahan preferensi wisatawan yang lebih memilih liburan singkat dan dekat rumah.

Selain sektor penginapan, tempat wisata dalam kota pun mulai menyesuaikan diri. Museum, taman kota, pusat kuliner, hingga galeri seni rutin mengadakan program khusus untuk menarik pengunjung lokal. Pemerintah kota Bandung, Yogyakarta, dan Malang aktif mempromosikan wisata lokal dengan tagline “Nikmati Liburmu di Kotamu”. Promosi wisata lokal ini membantu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan domestik secara signifikan setiap tahunnya.

Inisiatif komunitas juga memainkan peran penting. Beberapa kota besar, muncul gerakan seperti city walking tour, home cafe workshop, dan urban gardening experience yang memberi alternatif aktivitas menarik selama staycation. Hal ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat keterikatan warga dengan lingkungannya. Partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan ini mendorong terciptanya rasa kepemilikan dan menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan perkotaan.

Tips Merancang Staycation Yang Berkesan Dan Produktif

Tips Merancang Staycation Yang Berkesan Dan Produktif meskipun terdengar sederhana, staycation yang sukses tetap membutuhkan perencanaan agar terasa menyenangkan dan tidak membosankan. Berikut beberapa tips yang dapat di ikuti:

1. Tentukan Tema Liburan
Menentukan tema akan membantu menyusun aktivitas. Misalnya, “liburan santai”, “weekend kulineran”, atau “retret keluarga”. Tema ini menjadi panduan dalam memilih tempat menginap, aktivitas, dan suasana yang di inginkan.

2. Pilih Lokasi yang Mendukung
Jika memutuskan untuk menginap di luar rumah, pilih hotel atau penginapan dengan lokasi strategis dan fasilitas sesuai kebutuhan. Pastikan tempat tersebut memiliki ulasan baik dan menawarkan kenyamanan maksimal.

3. Matikan Notifikasi Kerja
Agar benar-benar merasa libur, usahakan untuk meminimalkan gangguan pekerjaan. Aktifkan mode “Do Not Disturb” pada ponsel, dan beri tahu rekan kerja bahwa Anda sedang cuti.

4. Siapkan Aktivitas Favorit
Isi waktu dengan aktivitas yang Anda sukai—menonton film, membaca buku, mencoba resep baru, atau bermain board game bersama keluarga. Tujuannya adalah menciptakan kenangan indah meski tidak bepergian jauh.

5. Manfaatkan Layanan Lokal
Cobalah memesan makanan dari restoran lokal yang belum pernah di coba, mengikuti kelas online yang menarik, atau membeli produk dari UMKM sekitar sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.

Menurut psikolog Universitas Indonesia, Dr. Rini Nurul Aini, staycation terencana baik memberi dampak positif kesehatan mental, menurunkan stres, serta memperkuat hubungan keluarga. “Esensi liburan bukan ke mana pergi, tapi bagaimana memaknai waktu istirahat dan kebersamaan,” ujarnya.

Tren staycation adalah respons masyarakat modern terhadap tuntutan hidup cepat, biaya perjalanan mahal, dan kesadaran keseimbangan hidup. Staycation bukan sekadar alternatif, tapi pilihan utama untuk merayakan waktu luang sederhana, hemat, dan bermakna.

Dengan dukungan industri, pemerintah, dan komunitas, tren ini di perkirakan terus tumbuh, memberi manfaat ekonomi dan sosial lokal. Liburan tak harus jauh dan mahal—kehangatan rumah dan kenyamanan kota sendiri adalah destinasi terbaik, itulah Tren Staycation.