
Kuliner Asia: Korea Tetap Eksis, Masakan Thailand Makin Dilirik
Kuliner Asia terus populer di Indonesia; setelah dominasi Korea, masakan Thailand kini semakin di minati konsumen. Baik cita rasa, variasi menu, maupun strategi promosi menjadi faktor penting dalam persaingan dua kuliner Asia ini.
Popularitas masakan Korea di Indonesia tidak bisa di lepaskan dari pengaruh budaya pop Korea (Hallyu) yang merambah berbagai sektor, termasuk musik, drama, dan fashion. Restoran berkonsep Korea menjamur di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Medan. Menu seperti tteokbokki, bibimbap, dan samgyeopsal menjadi pilihan populer, terutama di kalangan anak muda.
Menurut laporan dari Food Delivery Index 2024 oleh GrabFood dan OVO, makanan Korea berada di urutan keempat dalam daftar makanan paling di pesan secara daring di Indonesia, naik satu peringkat dari tahun sebelumnya. Ini menandakan masih kuatnya posisi kuliner Korea di pasar domestik. Selain rasa yang khas, kemasan visual yang menarik dan promosi melalui influencer juga berperan besar.
Restoran seperti Mujigae, Ojju, dan Korean BBQ House tak hanya menawarkan makanan, tetapi juga atmosfer yang menggambarkan gaya hidup Korea. Interior bernuansa modern dengan sentuhan budaya Korea membuat pelanggan merasa “berwisata” ke negeri ginseng. Ini memperkuat loyalitas konsumen terhadap kuliner Korea.
Namun demikian, meski tetap eksis, tren ini mulai menunjukkan kejenuhan di beberapa segmen konsumen. Beberapa pengamat industri kuliner menyebutkan bahwa pasar kini mulai mencari sesuatu yang “baru” dan “eksotis”, yang membuat peluang masakan Thailand terbuka lebar.
Kuliner Asia terus berkembang pesat; pelaku usaha kuliner Korea kini melakukan inovasi dengan menu fusion seperti kimchi spaghetti dan bulgogi burger untuk menyesuaikan selera lokal dan menghadapi persaingan dari sesama pelaku kuliner benua ini.
Kuliner Asia: Cita Rasa Masakan Thailand Yang Autentik Dan Berani
Kuliner Asia: Cita Rasa Masakan Thailand Yang Autentik Dan Berani di kenal dengan cita rasa yang kompleks: perpaduan antara asam, manis, asin, dan pedas dalam satu hidangan. Tom yum, pad thai, green curry, dan mango sticky rice adalah beberapa contoh yang mulai di gemari di Indonesia. Keunikan rasa dan tampilan menggugah selera menjadikan makanan Thailand menonjol di antara pilihan kuliner asing lainnya.
Dalam laporan tahun 2023 dari GlobalData, pertumbuhan restoran Thailand di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meningkat sebesar 12% dalam dua tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap cita rasa Thailand terus tumbuh. Restoran seperti Chandara, Thai Alley, dan Jittlada kini menjadi langganan para pencinta kuliner yang mencari sensasi baru.
Daya tarik lain dari kuliner Thailand adalah penggunaan bahan-bahan segar dan rempah alami seperti daun jeruk purut, serai, lengkuas, dan cabai rawit. Hal ini membuat makanan terasa lebih otentik dan sehat. Banyak restoran Thailand juga menawarkan menu vegetarian dan vegan, menjawab tren gaya hidup sehat yang sedang meningkat. Penggunaan bahan alami tersebut tidak hanya memperkaya cita rasa, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang tinggi bagi para penikmatnya.
Kehadiran chef Thailand asli di beberapa restoran juga menjadi nilai tambah. Pelanggan merasa mendapatkan pengalaman kuliner yang autentik, bukan hanya adaptasi rasa lokal. Bahkan beberapa chef mulai memberikan kelas memasak untuk memperkenalkan lebih dalam budaya kuliner Thailand kepada masyarakat Indonesia.
Tidak hanya di restoran, makanan Thailand mulai merambah layanan katering, frozen food, hingga makanan jalanan. Inovasi seperti frozen tom yum atau pad thai instan menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen masa kini yang serba cepat namun tetap menginginkan cita rasa premium.
Peran Media Sosial Dalam Meningkatkan Eksposur
Peran Media Sosial Dalam Meningkatkan Eksposur kekuatan media sosial dalam membentuk selera publik tak bisa diabaikan. Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi ajang promosi visual yang sangat efektif untuk kuliner. Masakan Thailand mulai naik daun setelah banyak food influencer dan travel vlogger mengulas pengalaman mereka menyantap hidangan khas Bangkok, Chiang Mai, atau Phuket.
Hashtag seperti #ThaiFood, #TomYum, atau #PadThai mulai ramai digunakan. Di TikTok Indonesia, video resep makanan Thailand mencapai jutaan tayangan, menunjukkan tingginya minat masyarakat. Salah satu video viral tahun 2024 adalah ulasan street food Thailand oleh influencer @makanterusss, yang meraih lebih dari 2 juta views dalam sepekan.
Konten video yang menampilkan cara masak tom yum atau mango sticky rice, lengkap dengan suara kuah mendidih dan visual potongan cabai, terbukti mampu membangkitkan selera penonton. Inilah kekuatan kuliner sebagai konten emosional—menggugah rasa dan kenangan, bukan sekadar informasi. Video masak tom yum dan mango sticky rice dengan suara kuah mendidih dan potongan cabai nyata mampu membangkitkan selera dan emosi penonton secara kuat.
Restoran Thailand pun tak ketinggalan memanfaatkan platform digital. Mereka aktif melakukan live cooking, giveaway, hingga kerja sama dengan selebgram kuliner. Kampanye semacam ini mampu menarik segmen pasar baru, terutama Gen Z dan milenial yang mengandalkan review online sebelum memesan makanan.
Data dari We Are Social (2024) menunjukkan bahwa 78% pengguna internet Indonesia mencari rekomendasi kuliner melalui media sosial, dan 64% mengatakan bahwa mereka tertarik mencoba makanan baru berdasarkan konten yang mereka lihat di TikTok atau Instagram. Ini menunjukkan bahwa eksistensi kuliner sangat dipengaruhi oleh kehadirannya di dunia maya.
Kuliner Asia Dalam Persaingan Sehat
Kuliner Asia Dalam Persaingan Sehat persaingan antara kuliner Korea dan Thailand di Indonesia mencerminkan dinamika pasar yang sehat. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dan edukasi kuliner yang lebih luas. Masing-masing memiliki kekuatan tersendiri: Korea dengan gaya hidup dan budaya popnya, sementara Thailand dengan kekayaan rasa dan keaslian masakan.
Pemerhati kuliner dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Nurul Huda, menyebut bahwa preferensi konsumen saat ini sangat dinamis. “Tren makanan sangat di pengaruhi oleh faktor eksternal seperti drama, film, dan tren kesehatan. Masakan Thailand saat ini mencuat karena selaras dengan tren eksplorasi rasa dan keinginan akan makanan autentik,” ujarnya.
Dari sisi pengusaha, banyak yang mulai membuka restoran dengan konsep ‘Asian Fusion’, menggabungkan berbagai kuliner Asia dalam satu tempat. Ini menjadi strategi adaptif dalam merespons selera konsumen yang semakin terbuka terhadap ragam makanan lintas budaya. Di beberapa tempat, bahkan tersedia menu kimchi pad thai atau tom yum ramyeon sebagai hasil perpaduan dua budaya kuliner.
Dalam event kuliner seperti Jakarta Culinary Feastival atau Ubud Food Festival, kehadiran booth makanan Thailand meningkat signifikan. Penyelenggara mencatat animo demo masak makanan Thailand sangat tinggi, bahkan lebih besar dibanding booth dari negara Asia lain. Booth makanan Thailand semakin banyak di Jakarta Culinary Feastival dan Ubud Food Festival, menarik pengunjung lebih banyak dari negara Asia lain.