Site icon TribunMedia24

Kesehatan Lansia: Menjaga Kualitas Hidup Di Usia Senja

Kesehatan Lansia: Menjaga Kualitas Hidup Di Usia Senja

Kesehatan Lansia: Menjaga Kualitas Hidup Di Usia Senja

Kesehatan Lansia usia lanjut membawa banyak perubahan yang signifikan, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Lansia merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap penyakit kronis. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 65–74 tahun mencapai 63,87%, dan pada usia 75 tahun ke atas sebesar 67,8%. Sedangkan untuk diabetes melitus, prevalensinya sebesar 17,6% di kalangan lansia, jauh lebih tinggi di bandingkan kelompok usia yang lebih muda.

Selain itu, penyakit jantung koroner juga menjadi salah satu penyebab utama kematian pada lansia. Laporan dari Global Burden of Disease 2019 menunjukkan bahwa penyakit jantung iskemik adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, dengan mayoritas kasus menimpa kelompok lansia. Ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko seperti kolesterol tinggi dan tekanan darah.

Tak hanya penyakit fisik, gangguan kognitif seperti demensia juga meningkat tajam. Berdasarkan data Alzheimer’s Disease International (ADI) 2022, di perkirakan terdapat 1,2 juta kasus demensia di Indonesia, sebagian besar pada lansia di atas 65 tahun. Sementara itu, WHO mencatat bahwa 15% lansia di seluruh dunia mengalami gangguan mental, terutama depresi yang sering kali tidak terdiagnosis akibat minimnya akses ke layanan psikologis dan stigma sosial.

Kesehatan Lansia sangat rentan terhadap infeksi, seperti pneumonia dan influenza, karena penurunan imunitas seiring bertambahnya usia. Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata, di mana 70-80% angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia terjadi pada kelompok lansia. Hal ini mempertegas pentingnya vaksinasi bagi lansia untuk melindungi mereka dari risiko infeksi serius. Namun, hingga awal 2023, cakupan vaksinasi lansia masih berada di bawah 50%, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI.

Kesehatan Lansia: Nutrisi Dan Aktivitas Fisik Fondasi Kehidupan Sehat

Kesehatan Lansia: Nutrisi Dan Aktivitas Fisik Fondasi Kehidupan Sehat nutrisi yang seimbang sangat krusial untuk menjaga daya tahan tubuh lansia.

Berdasarkan data BKKBN tahun 2021, sebanyak 26,1% lansia Indonesia mengalami Kekurangan Energi Kronis atau disebut KEK. KEK pada lansia disebabkan oleh sulitnya akses makanan bergizi, masalah gigi, dan gangguan menelan yang cukup umum. Masalah menelan pada lansia sering tak terdeteksi, sehingga memperburuk asupan nutrisi dan memperbesar risiko kondisi kekurangan energi.

Kebutuhan gizi lansia mencakup protein untuk otot, kalsium dan vitamin D untuk tulang, serta serat menjaga pencernaan. Konsumsi protein cukup mencegah hilangnya massa otot (sarcopenia), yang umum terjadi dan berdampak pada mobilitas lansia. Penelitian Journal of Aging Research & Clinical Practice tahun 2020 menunjukkan, protein dan vitamin D kurangi risiko jatuh lansia. Risiko jatuh berkurang hingga 33% pada lansia yang rutin mengonsumsi protein dan vitamin D dalam jumlah yang memadai.

Pentingnya aktivitas fisik juga tidak bisa di abaikan. Lansia yang aktif secara fisik memiliki kualitas hidup yang lebih baik, risiko jatuh yang lebih rendah, dan kesehatan mental yang lebih stabil. WHO merekomendasikan agar lansia melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang. Aktivitas ini dapat berupa jalan kaki, bersepeda santai, senam ringan, atau bahkan berkebun.

Studi Harvard (2020) menyebut lansia aktif fisik hidup 3–5 tahun lebih lama dibanding yang tidak aktif. Di Indonesia, senam lansia oleh Posyandu dan komunitas RW sudah digelar, namun partisipasinya masih rendah akibat kurangnya pendampingan dan fasilitas.

Penting juga adanya edukasi gizi lansia secara masif, terutama di pedesaan. Peran kader kesehatan, puskesmas, dan keluarga sangat penting dalam membangun pola hidup sehat yang konsisten. Upaya ini bertujuan memastikan akses layanan kesehatan optimal dan kualitas hidup lansia yang lebih baik menuju Indonesia Ramah Lansia 2045.

Peran Keluarga Dan Lingkungan Dalam Mendukung Lansia

Peran Keluarga Dan Lingkungan Dalam Mendukung Lansia kesehatan lansia tidak semata-mata di tentukan oleh faktor medis, tetapi juga sangat di pengaruhi oleh dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2022 menunjukkan bahwa 17,9% lansia tinggal sendiri, dan 29,1% hanya tinggal dengan pasangannya. Lansia yang hidup sendiri lebih berisiko mengalami isolasi sosial, depresi, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

Perubahan struktur keluarga di era modern—dengan meningkatnya migrasi kerja dan keluarga inti—membuat banyak lansia kehilangan peran sosialnya. Oleh karena itu, keberadaan komunitas dan lingkungan yang inklusif menjadi sangat penting.

Di beberapa daerah, inisiatif Kampung Ramah Lansia telah di implementasikan. Contohnya di Yogyakarta, program ini mengintegrasikan lansia dalam kegiatan harian seperti berkebun, pengajian, kerajinan tangan, dan pelatihan kewirausahaan. Evaluasi program dari Dinas Kesehatan setempat menunjukkan bahwa program ini meningkatkan rasa bahagia dan memperkuat koneksi sosial para lansia.

Aspek lingkungan fisik juga berperan penting. Fasilitas umum seperti trotoar aman, kursi taman, toilet ramah lansia, dan transportasi publik yang mudah di akses merupakan bagian dari infrastruktur yang mendukung mobilitas dan partisipasi lansia. Namun, Kementerian PUPR menyebutkan bahwa baru 16% fasilitas publik di kota-kota besar Indonesia memenuhi standar aksesibilitas bagi lansia dan penyandang disabilitas.

Tak kalah penting, partisipasi lansia dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan ekonomi memberi dampak positif terhadap kesehatan mental mereka. Data dari Age UK (2021) menunjukkan bahwa lansia yang aktif secara sosial memiliki risiko demensia lebih rendah 22% di bandingkan mereka yang menarik diri dari lingkungan sosial.

Arah Kebijakan Dan Inovasi Layanan Bagi Lansia

Arah Kebijakan Dan Inovasi Layanan Bagi Lansia pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen dalam isu lansia dengan menerbitkan beberapa regulasi penting, seperti Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia dan Peraturan Presiden No. 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan. Strategi ini mencakup lima pilar: perlindungan sosial, kesehatan, pendidikan, partisipasi, dan lingkungan ramah lansia.

Namun demikian, implementasi kebijakan di lapangan masih menghadapi banyak tantangan. Laporan BKKBN 2023 mencatat bahwa hanya 30% kabupaten/kota yang memiliki program kelanjutusiaan yang terintegrasi secara lintas sektor. Keterbatasan anggaran dan kapasitas SDM menjadi kendala utama dalam pelaksanaan program tersebut.

Inovasi layanan seperti Home Care dan Telemedicine mulai di perkenalkan untuk menjangkau lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas. Contohnya, di Kota Bandung, program Home Visit Lansia yang di lakukan oleh puskesmas melibatkan tim medis untuk memantau tekanan darah, kadar gula, serta memberikan edukasi kepada keluarga. Program serupa juga telah berjalan di Surabaya dan Denpasar.

Di era digital, akses teknologi juga perlu di tingkatkan untuk lansia. Aplikasi seperti JAKI (Jakarta Kini) menyediakan menu layanan prioritas untuk lansia, termasuk pendaftaran vaksinasi, ambulans gawat darurat, dan konsultasi kesehatan. Meskipun demikian, Survei APJII 2023 menyebutkan bahwa hanya 32,4% lansia di Indonesia yang menggunakan internet secara aktif, menunjukkan masih perlunya literasi digital untuk kelompok ini.

Pemerintah juga perlu membentuk lebih banyak pelatihan bagi caregiver profesional dan relawan pendamping lansia, karena kebutuhan perawatan jangka panjang akan meningkat seiring dengan proyeksi bahwa pada tahun 2045, jumlah lansia Indonesia akan mencapai 63 juta jiwa atau sekitar 19,9% dari total penduduk, menjadikan Indonesia sebagai negara aging population.

Menjaga kualitas hidup lansia adalah tanggung jawab bersama dengan dukungan layanan kesehatan, lingkungan inklusif, dan kebijakan yang tepat. Pendekatan holistik dan data menjadi kunci membangun sistem perlindungan preventif. Upaya ini bertujuan mewujudkan Indonesia Ramah Lansia 2045 dan meningkatkan Kesehatan Lansia.

Exit mobile version