
Kebiasaan Buruk: 5 Hal Yang Merusak Keuangan Pribadi
Kebiasaan Buruk salah satu penyebab utama kondisi keuangan pribadi yang tidak stabil adalah kebiasaan melakukan pengeluaran impulsif. Ini adalah jenis pengeluaran yang dilakukan tanpa perencanaan dan umumnya didorong oleh dorongan emosional atau keinginan sesaat.
Dalam studi oleh Jakpat (Jakarta Smart Survey) pada tahun 2023, sebanyak 64% responden mengaku melakukan pembelian impulsif setidaknya sekali dalam seminggu, terutama dipicu oleh iklan di media sosial dan aplikasi belanja daring. Mereka menyebutkan bahwa diskon besar, promosi waktu terbatas, serta fitur “beli sekarang, bayar nanti” adalah pemicu utama.
Kebiasaan ini menjadi lebih berbahaya ketika konsumen tidak sadar bahwa mereka telah keluar dari batas anggaran bulanan. Pembelian yang tampak kecil seperti makanan, minuman kekinian, atau aksesoris gadget dapat menumpuk menjadi angka besar dalam sebulan. Tanpa pengawasan, perilaku ini menggerogoti tabungan dan memperkecil peluang investasi.
Menurut Bank Dunia, sekitar 53% masyarakat Indonesia tidak memiliki sisa penghasilan di akhir bulan, salah satunya di sebabkan oleh belanja tidak terencana.
Kebiasaan Buruk dalam mengatur keuangan sering kali menjadi pemicu utama pemborosan yang tidak disadari. Untuk mengatasinya, mulailah dengan mencatat setiap pengeluaran harian, sekecil apa pun, agar lebih mudah mengendalikan pola belanja. Gunakan fitur wishlist dan beri jeda 24 hingga 48 jam sebelum membeli sesuatu, agar terhindar dari keputusan impulsif. Selain itu, buatlah prioritas keuangan bulanan yang jelas, di mulai dari kebutuhan pokok, tagihan rutin, hingga alokasi untuk hiburan secara bijak.
Kebiasaan Buruk: Gaya Hidup Konsumtif
Kebiasaan Buruk: Gaya Hidup Konsumtif sering kali di anggap sebagai bentuk pencapaian atau peningkatan kualitas hidup. Namun, tanpa keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, gaya hidup ini justru menjadi jebakan finansial.
Fenomena ini banyak terjadi di kalangan generasi muda, terutama yang tinggal di perkotaan. Berdasarkan riset Populix 2022, 72% anak muda usia 20–35 tahun pernah belanja demi citra di media sosial.
Nongkrong di kafe mewah, liburan spontan, dan mengikuti tren fashion menjadi simbol status sosial baru dalam lingkungan digital. Ironisnya, gaya hidup ini sering didanai dengan kartu kredit atau paylater tanpa mempertimbangkan dampak finansial jangka panjang. Laporan BI 2023 mencatat peningkatan 44,7% penggunaan layanan paylater dibandingkan tahun lalu, dominan untuk kebutuhan sekunder dan tersier.
Tren konsumtif ini sering kali tidak sebanding dengan kemampuan finansial nyata, sehingga memicu tekanan ekonomi di kemudian hari. Banyak generasi muda tergoda membelanjakan lebih demi citra, bukan karena kebutuhan mendesak atau alasan rasional yang jelas. Tanpa perencanaan keuangan matang, penggunaan kredit konsumtif bisa menjadi jebakan utang yang sulit di selesaikan di masa depan.
Strategi menghindari pemborosan perlu di mulai dengan mengevaluasi setiap pengeluaran—apakah benar-benar penting atau sekadar demi kepuasan sesaat. Menerapkan prinsip “living below your means” atau hidup di bawah kemampuan juga menjadi kunci agar keuangan tetap stabil dan terkontrol. Selain itu, penting untuk menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, karena hal itu sering kali mendorong perilaku konsumtif yang tidak perlu.
Tidak Punya Dana Darurat: Risiko Yang Mengintai Setiap Saat
Tidak Punya Dana Darurat: Risiko Yang Mengintai Setiap Saat dana darurat sering kali di abaikan karena di anggap tidak mendesak. Padahal, fungsi dana ini sangat vital untuk mengantisipasi kondisi tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya rumah sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya.
Menurut survei Financial Literacy Indonesia oleh Standard & Poor’s (S&P) pada tahun 2022, hanya 29% masyarakat Indonesia yang memiliki dana darurat yang cukup (minimal 3 bulan pengeluaran rumah tangga). Ini menunjukkan betapa tingginya kerentanan finansial mayoritas penduduk.
Tanpa dana darurat, seseorang terpaksa mengandalkan utang ketika menghadapi krisis. Beban bunga dari pinjaman atau kartu kredit justru bisa memperparah kondisi finansial. Dalam beberapa kasus, ketidakmampuan membayar utang memicu stres berkepanjangan dan menurunkan produktivitas.
Dalam masa pandemi COVID-19, banyak rumah tangga kehilangan pendapatan secara tiba-tiba. Survei SMERU Research Institute mencatat bahwa lebih dari 50% keluarga menengah ke bawah tidak siap secara finansial menghadapi PHK atau pemotongan gaji.
Menyusun dana darurat adalah langkah penting dalam membangun fondasi keuangan yang sehat dan tangguh terhadap situasi tak terduga. Langkah pertama yang perlu di lakukan adalah menentukan target ideal, yakni sebesar 3 hingga 6 bulan dari total pengeluaran bulanan. Setelah target di tetapkan, mulailah dengan menyisihkan minimal 10 hingga 15 persen dari penghasilan setiap bulan ke dalam rekening khusus yang tidak mudah di akses untuk keperluan sehari-hari. Agar dana tetap aman dan mudah di cairkan saat di butuhkan, sebaiknya gunakan instrumen likuid seperti tabungan biasa atau e-wallet yang menawarkan bunga.
Mengabaikan Investasi Dan Gagal Membuat Anggaran
Mengabaikan Investasi Dan Gagal Membuat Anggaran dua kebiasaan buruk yang saling terkait dan berdampak besar pada kestabilan keuangan jangka panjang adalah tidak berinvestasi dan tidak membuat anggaran rutin. Keduanya mencerminkan kurangnya perencanaan dan disiplin finansial.
Menurut OJK, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia pada tahun 2022 baru mencapai 49,68%, meski inklusi keuangan sudah mencapai 85,10%. Artinya, banyak masyarakat sudah memiliki akses ke produk keuangan, tapi belum memahami cara mengelola dan memanfaatkannya.
Investasi dipandang sebagai sesuatu yang rumit, berisiko, dan hanya untuk kalangan atas. Padahal, banyak instrumen investasi yang kini dapat diakses dengan modal minim, seperti reksa dana yang bisa dimulai dari Rp10.000. Sayangnya, tanpa pengetahuan dasar dan anggaran yang jelas, banyak orang justru menghabiskan penghasilannya untuk konsumsi tanpa menyiapkan masa depan.
Data dari KSEI 2024 menyampaikan Jumlah investor di pasar modal Indonesia meningkat tajam menjadi lebih dari 12 juta SID (Single Investor Identification). Namun hanya 40% yang aktif bertransaksi secara konsisten dan memiliki portofolio terdiversifikasi.
Anggaran bukan hanya alat pencatatan, tapi juga penentu arah pengeluaran. Tanpa anggaran, sangat mudah tergoda untuk belanja lebih dari kemampuan atau mengabaikan pos investasi dan tabungan. Langkah memulai:
- Buat anggaran sederhana bulanan berdasarkan pemasukan dan pengeluaran tetap.
- Sisihkan dana untuk investasi minimal 10% dari pendapatan.
- Gunakan aplikasi pengatur keuangan seperti Finansialku, Dompetku, atau Excel sederhana.
Waspadai Kebiasaan, Bangun Masa Depan
Waspadai Kebiasaan, Bangun Masa Depan kebiasaan buruk, mulai dari pengeluaran impulsif hingga tidak berinvestasi—bukan sekadar kesalahan kecil, tapi akar dari banyak masalah keuangan pribadi. Jika di biarkan terus-menerus, kondisi ini akan menciptakan lingkaran setan yang sulit di pecahkan: utang menumpuk, tidak ada tabungan, dan tidak ada persiapan masa depan.
Mengelola keuangan pribadi memang membutuhkan waktu dan usaha. Namun, langkah kecil seperti mencatat pengeluaran, menyusun rencana anggaran, serta menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi dan dana darurat dapat membawa perubahan signifikan dalam jangka panjang.
Pemerintah melalui OJK dan Kementerian Keuangan juga terus mendorong literasi dan inklusi keuangan melalui kampanye nasional dan edukasi publik. Program seperti Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), Edukasi Pasar Modal Syariah, dan pelatihan UMKM berbasis digital menjadi bagian dari upaya sistemik membangun kesadaran finansial sejak dini.
Kestabilan keuangan bukan soal seberapa besar pendapatan, melainkan bagaimana seseorang mengelola apa yang di milikinya dengan bijak. Banyak orang dengan penghasilan tinggi pun bisa terjerat utang jika tidak memiliki kontrol dan perencanaan keuangan yang disiplin—sebuah konsekuensi dari Kebiasaan Buruk.