Site icon TribunMedia24

Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Ini Penjelasan Medisnya

Angin Duduk

Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Ini Penjelasan Medisnya

Angin Duduk Istilah Yang Di Gunakan Banyak Oleh Orang Indonesia Untuk Menggambarkan Kondisi Sakit Dada Atau Tidak Nyaman Di Dada. Dalam bahasa sehari-hari, ini sering disalahartikan sebagai “masuk angin” atau gangguan ringan yang cukup di obati dengan kerokan, minyak gosok, atau ramuan tradisional. Namun secara medis, Angin Duduk bukanlah “masuk angin biasa”. Ini adalah istilah populer untuk kondisi serius yang disebut angina pectoris sebuah gangguan akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung.

Dokter dan ahli kesehatan memperingatkan bahwa Angin Duduk berkaitan erat dengan penyakit jantung koroner, salah satu penyebab utama kematian di banyak negara. Ketika otot jantung tidak mendapatkan cukup darah yang kaya oksigen, organ ini tidak dapat bekerja dengan optimal. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang mengkhawatirkan dan berpotensi berkembang menjadi keadaan darurat medis jika tidak di tangani dengan benar.

Apa Itu Angin Duduk Secara Medis?

Dalam istilah medis, angin duduk di kenal sebagai angina pectoris. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang atau terhambat, sehingga suplai oksigen yang di butuhkan untuk fungsi jantung juga turun. Hal ini bisa di sebabkan oleh penyempitan pembuluh darah arteri koroner yang memasok darah ke jantung.

Penyempitan tersebut biasanya di sebabkan oleh penumpukan plak lemak (aterosklerosis) pada dinding pembuluh darah. Plak ini bisa membuat aliran darah menjadi lebih sempit dan tidak lancar, sehingga ketika jantung bekerja lebih keras, seperti saat beraktivitas fisik atau stres, kebutuhan darah dan oksigen meningkat tetapi tidak terpenuhi.

Akibatnya, penderitanya merasakan sensasi nyeri atau tekanan di dada. Inilah yang sering di sebut angin duduk oleh masyarakat awam. Gejala ini berbeda dengan kondisi “masuk angin” yang biasanya berhubungan dengan masalah pencernaan atau perasaan tidak enak badan.

Gejala Umum yang Muncul

Nyeri atau tidak nyaman di dada adalah gejala paling khas dari angin duduk. Sensasinya sering di gambarkan seperti tertekan benda berat, tertindih, atau terasa sesak. Rasa sakit ini dapat menyebar ke bagian lain tubuh seperti lengan kiri, bahu, leher, hingga rahang. Selain itu, beberapa penderita juga merasakan gejala lain seperti:

Gejala-gejala ini mirip tanda awal serangan jantung, sehingga sangat penting untuk tidak menyepelekan jika muncul gejala tersebut.

Angina dapat muncul saat tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen misalnya saat berjalan cepat, menaiki tangga, atau melakukan aktivitas berat lainnya. Ada juga jenis angina yang di sebut tidak stabil, yang dapat timbul bahkan saat istirahat, dan ini memerlukan perhatian medis segera.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab utama angin duduk adalah kondisi yang membuat arteri koroner menyempit, sehingga aliran darah ke jantung berkurang. Faktor-faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan mengalami kondisi ini termasuk:

Semua faktor ini berperan dalam pembentukan plak di dinding arteri yang kemudian menyumbat aliran darah.

Bedanya dengan Masuk Angin Biasa

Istilah masuk angin dalam budaya populer Indonesia biasanya merujuk pada sensasi tidak enak badan, kembung, atau pegal-pegal yang di sebabkan oleh kondisi ringan seperti pencernaan atau infeksi saluran pernapasan. Tidak ada bukti medis bahwa angin duduk di sebabkan oleh masuknya angin ke tubuh.

Angin duduk lebih serius karena berkaitan dengan jantung dan pasokan darahnya. Meski istilahnya mirip, konteks medisnya berbeda jauh.

Apa yang Harus Di lakukan?

Jika seseorang mengalami nyeri dada yang di duga sebagai angin duduk, terutama bila disertai gejala lain seperti sesak napas atau nyeri yang menjalar, sangat penting untuk segera mencari pertolongan medis. Dokter dapat melakukan pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG), tes darah, atau pemeriksaan pencitraan untuk memastikan diagnosis.

Pencegahan juga penting, termasuk menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, mengendalikan tekanan darah dan kolesterol, serta berhenti merokok.

Exit mobile version