Bubur Ase

Bubur Ase Betawi, Ikon Kuliner Jakarta Yang Hampir Punah

Bubur Ase Warisan Kuliner Betawi Yang Tak Boleh Di Lupakan Di Tengah Gemerlapnya Kuliner Jakarta Yang Terus Berevolusi. Makanan tradisional ini sejatinya merupakan salah satu sajian khas Jakarta yang kaya akan makna budaya, namun kini keberadaannya makin langka dan nyaris punah di kota tempat lahirnya.

Bubur Ase sebenarnya bukan bubur biasa. Berbeda dari bubur nasi pada umumnya yang lebih sederhana, Bubur Ase di racik dengan perpaduan tiga elemen utama: bubur nasi sebagai dasar, kuah semur daging yang manis-gurih, serta asinan sayur yang segar dan asam. Kombinasi ini menghasilkan rasa yang kompleks—ada manis, gurih dan asam—yang menjadi ciri khas kuliner Betawi.

Istilah “ase” sendiri di yakini merupakan akronim dari “asinan dan semur”, dua komponen pelengkap utama dalam sajian ini. Pendapat lain mengatakan bahwa “ase” juga merujuk pada penyajian yang biasanya tidak terlalu panas, sehingga bubur tetap terasa nikmat meski tidak di sajikan dalam kondisi matang panas seperti bubur lainnya.

Jejak Budaya di Balik Semangkuk Bubur Ase

Hidangan ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga wajah dari keragaman budaya Betawi. Kuliner ini mencerminkan akulturasi antara budaya Tionghoa, Eropa, dan lokal Betawi. Unsur Tionghoa tampak dari penggunaan toge, tahu, dan kecap. Sementara semur merupakan warisan kolonial Belanda yang di adaptasi dengan rempah-rempah lokal. Rempah inilah yang memberi karakter khas pada semur yang di sajikan bersama bubur.

Di masa lalu—terutama sampai pertengahan abad ke-20—bubur Ase menjadi hidangan favorit masyarakat Betawi, khususnya di kawasan Betawi Tengah yang kini mencakup pusat Jakarta. Hidangan ini sering di nikmati sebagai sarapan pagi sebelum memulai aktivitas atau sebagai menu istimewa saat acara keluarga dan perayaan budaya.

Kelangkaan Penjual dan Ancaman Kepunahan

Sayangnya, seiring waktu, jumlah penjual bubur ini semakin menyusut. Fenomena ini di sebabkan oleh beberapa faktor: kurangnya regenerasi penjual, perubahan selera makan masyarakat, serta persaingan dengan berbagai jenis kuliner populer lainnya. Kini, penjual bubur Ase hanya dapat di hitung dengan jari dan keberadaannya hampir punah di Jakarta.

Ciri Rasa dan Penyajian

Secara tekstur, bubur ini memiliki bubur nasi yang lembut dan padat. Kuah semurnya biasanya berisi potongan daging sapi empuk, kentang, tahu, dan rempah yang kuat. Sementara asinan sayur seperti mentimun, sawi, wortel dan taoge memberi sentuhan asam-segar yang khas. Taburan kacang tanah goreng, bawang goreng, dan sambal biasanya melengkapi sajian ini, menciptakan rasa yang kompleks namun seimbang.

Beberapa penikmat bahkan percaya bahwa bubur Ase paling nikmat bila di sajikan sedingin mungkin, sementara kuah semurnya tetap hangat saat dituangkan di atas bubur. Tradisi ini berbeda dari kebiasaan umum dalam menikmati bubur lain yang selalu di sajikan panas.

Makna dan Peran dalam Kebudayaan Betawi

Lebih dari sekadar makanan, bubur ini merupakan simbol sejarah dan komunitas di Jakarta. Kuliner ini pernah menjadi bagian dari ritual adat, sarapan pagi, hingga hidangan pada acara keluarga. Sebagai makanan masyarakat Betawi tempo dulu, hidangan ini memiliki makna kebersamaan, tradisi, dan rasa syukur dalam kehidupan sosial dan budaya.

Namun tanpa upaya nyata untuk melestarikan tradisi kuliner ini. Melalui edukasi, promosi budaya, atau dukungan dari pemerintah daerah dan pelaku UMKM. Bubur Ase berisiko hilang dari peta kuliner Jakarta selamanya.

Upaya Pelestarian dan Harapan

Beberapa pelaku UMKM dan komunitas budaya telah berupaya menjaga keberadaan bubur Ase, termasuk dengan menjual di bazar budaya, festival kuliner, atau acara perayaan lokal. Namun, sinergi yang lebih kuat antara masyarakat, pemerintah. Dan pelaku industri perlu di bangun agar bubur Ase tidak hanya di kenang tetapi juga terus di nikmati generasi mendatang.